BANYU PINARUH
Banyu Pinaruh berasal dari dua suku kata yakni Banyu dan Pinaruh yang bersumber dari proses dialektikal linguistik Banyu Pinaweruh. Banyu dalam bahasa Jawa Kuna dapat diartikan sebagai air. Sedangkan Pinaweruh berasal dari bahasa Jawa Kuna dan terdiri dari kata Pinaŋ yang artinya memohon atau mengundang dan Wruh artinya pengetahuan. Banyu Pinaweruh berarti air yang mendatangkan ilmu pengetahuan.. Dalam Lontar Sundarigama, Banyu Pinaruh merupakan serangkaian dari Hari Raya Saraswati yang dilaksanakan keesokan harinya pada Redite Paing Sinta. Pada hari ini, umat Hindu melakukan penyucian diri dengan sarana air. Dalam Yajur Weda disebutkan bahwa air merupakan elemen alam yang sangat penting sebagai sumber kehidupan manusia. Dalam Manawa Dharmasastra, dijelaskan bahwa air sebagai sarana menyucikan tubuh. Air yang telah terformulasi dalam "Siwambha" seorang pendeta atau Sulinggih melalui Japa, Mantra, Puja, Mudra dan Genta disebut sebagai tirtha. Tirtha ini dapat digunakan sebagai sarana pembersihan dan penyucian yang dikenal dengan nama tirtha pelukatan dengan sarana bunga tunjung atau teratai. Hal ini divisualisasikan dengan seorang wanita yang melaksanakan pelukatan. Pelukatan ini bertujuan untuk menetralisir dan menyomya dasa mala yang ada dalam diri manusia. Dasa mala bersumber dari Slokantara dan terdiri dari 1) Leja (tamak, sombong, serakah); 2) Kuhaka (kasar, pemarah); 3) Megata (penuh tipu muslihat, bermuka dua); 4) Bhaksa Bhuwana (menipu orang, boros, egois); 5) Kutila (pemabuk); 6) Ragastri (mata keranjang, penuh nafsu); 7) Kimburu (iri, dengki, menang sendiri), 8) Metraya (mengejek dan mengganggu); 9) Kleda (menyesal, pesimis); 10) Tandri (anti sosial). Ke-10 (sepuluh) sifat ini digambarkan dengan 10 tokoh raksasa yang gestur dan mimiknya sesuai untuk menggambarkan dasa mala ini. Ketika dasa mala ini berhasil disomya dan dinetralisir maka dapat memunculkan sifat atau guna sattwam dalam diri. Guna sattwam yaitu sifat tenang, suci, bijaksana, cerdas dan sifat-sifat baik lainnya. Sifat ini disimbolkan dengan angsa putih yang identik dengan wahana dari Dewi Saraswati. Dengan telah munculnya guna sattwam, maka ilmu pengetahuan dapat turun dan bermanfaat jika disertai dengan kesucian lahir dan batin. Ilmu pengetahuan yang diturunkan Dewi Saraswati divisualisasi dalam bentuk antariksa sebagai penggambaran ilmu pengetahuan secara umum yang sekaligus merupakan salah satu ilmu tertua disamping adanya dasa aksara sebagai penggambaran ilmu pengetahuan dalam konsep hindu. Akar berwarna emas melambangkan sumber ilmu pengetahuan yang suci. Kedua ornamen ini menjadi latar belakang (background) yang memperkuat visualisasi Dewi Saraswati sebagai simbol Dewi ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan diidentikan dengan perwujudan Dewi Saraswati juga diwujudkan berupa sastra yang bersemayam dalam mahligai lontar sehingga identik dengan kemunculan aksara-aksara yang ada di dunia ini. Dalam lontar Tutur Aji Saraswati, bahwa aksara-aksara tersebut memenuhi dunia baik dalam Bhuana Agung (Makrokosmos) dan Bhuana Alit (Mikrokosmos). Aksara tersebut dapat diringkes atau disarikan menjadi 10 (sepuluh) aksara utama yang dikenal dengan nama dasa aksara yang berada di 8 penjuru arah mata angin dan 2 berada di tengah. Sang Hyang Aji Saraswati juga bergelar Ida Sang Mambek Toya tur Wagmi yang berarti beliau yang mengalirkan air suci pengetahuan dengan kata-kata yang bijak dan indah yang sesuai dengan ritus Banyu Pinaweruh. Dengan ritual mengenai air suci pengetahuan ini, maka diharapkan manusia mampu mewujudkan tubuh yang bersih, pikiran yang suci, dan jiwa yang jernih sehingga dapat menjalani kehidupan yang baik dan sejahtera yang disebut dengan Jagadhita, sebagai bentuk implementasi dari Jala Sidhi Shuvita, Memuliakan Air Untuk Kesejahteraan.
